Coretan Dirimu

Kisah ini adalah sebuah jelmaan dari imajinasi yang terbendung pekatnya kegalauan dan perasaan bersalah meninggalkan seorang yang mengerti segalanya tentang mencintai dengan tulus.

Hypo 1.

Tiga tahun lalu. Aku berdiri di ambang pintu kamar ku, sebuah kamar yang ku tempati baru beberapa minggu.  Desis angin malam menghebus kegelisahan, aku sedang menunggu seseorang yang seharusnya sudah bersamaku melewati mimpi malam ini, mungkin sedang berpeluk mesra dengan ku, menceritakan kejadian-kejadian sederhana yang akan membuat kami berdua tersenyum bertatap penuh arti, mungkin maknanya adalah aku mencintaimu, maukah kau melewatkan malam ini denganku lagi?.
Ia belum juga pulang, sudah pukul sebelas malam, dimanakah dia? Sedang berbuat apa? Tidakkah ia sadar sudah jam berapa sekarang ini? Sedikit rasa kesal menyeruak dibalik ubun-ubun, sedang gelisah tetap tidak mau beranjak. Tiga puluh menit berlalu, ku raih handphone samsung milikku dan mulai membuka riwayat panggilan yang sebagian besar tertera namanya, tombol hijau itu, untuk kesekian kalinya ku tekan setelah ku temukan namanya dalam daftar panggilan keluar. Ternyata tidak aktif, “Ah, dimanakah kau sayang, tidakkah kau ingat malam ini ada janji yang telah kita sepakati tiga hari lalu?”. Ya tiga hari yang lalu kita sudah berjanji, menjadi milik masing-masing dalam hubungan yang terlarang ini. Tida hari lalu bukankah kata rindu menjadi sakral untuk kita berdua?, Lalu kemanakah dirimu sayang? Seharusnya kau sudah berada dalam pelukku, seharusnya aku sudah mencium kening dan bibirmu, seharusnya kau sementara mendengarkan aku yang sedang bercerita tentang aku yang sudah merindukan memelukmu erat dan tidak lagi melepasmu hingga fajar tiba, seharusnya kau sementara tersenyum menatapku dalam dan mengatakan bahwa kau tidak ingin aku pulang esok pagi. Bukankah itu yang biasa kau katakan padaku sayang?
Tiga jam berlalu, tepat pukul dua. Akhirnya aku bosan dan merasa kau tidak lagi datang. Aku melangkah gontai mengarah ke pembaringan seraya menyesal kau tidak juga datang, lebih lagi karena janji yang sudah kita buat. Aku tak punya siapa yang dapat ku sebut kekasih, dirimu pun belum dapat kusebut kekasih sebab engkau telah berdua, sedang kita berdua sudah tenggelam dalam kasmaran yang paling tidak agak susah dijelaskan oleh para ahli psikolog hingga ahli filsafat. Ya, karena semuanya adalah pembohong menurutku, pembohong yang jenius. Perasaan apa ini yang berkecamuk, sepertinya kisah kita memang ditakdirkan untuk menyusahkan kita, membuat kita terperangkap dalam perasaan tak terbendung dari rasa ingin memiliki dan selamanya bersama. Ku rebahkan kepala pada bantal ungu, warna kesayanganmu. Napas terpanjang hari ini kutarik saat itu, bias bayangmu seakan membuat tak terima dengan keadaan ini. Mengapa ini terjadi? Mengapa bukan aku yang pertama menaklukkan hatimu? mengapa bukan aku yang bertemu dengan dirimu pertama kali? Haruskah aku melarikanmu? ah tidak mungkin, aku sendiri masih dalam masa menuntut ilmu sedang kau juga sama dengan diriku. Banyak sekali pertanyaan yang muncul dalam kepalaku, respon jaringan sensorikku seakan terkacaukan dengan semua bayangan dirimu yang muncul malam ini. Ah, susahnya menepiskan bayangmu dari relung hati ini. Apalagi senyummu yang setiap saat bahkan ketika kau jauh tetap saja menelusur celah-celah hati dan menemukan jalannya tepat ke inti hati ini, membuat ku tak bisa berpikir apa-apa selain dirimu dan senyummu itu. Sungguh gila cinta mempermainkan hatiku.
Jam tiga lebih beberapa menit dan pintu kamar ku di ketuk. “Je, bukain pintunya..” suara seorang perempuan menelusup celah-celah pintu yang cukup rapat. Aku segera beranjak dari tempat tidurku, meyakini suara ini adalah suara yang sedang ku nanti hingga pagi buta ini. “Dia datang”, kataku dalam hati, segera ku matikan lampu kamarku dan menuju ke arah pintu menarik besi pengunci pada pintu. Ku buka dan ia tersenyum, senyumannya membuatku selalu berdesir dan merasa jika hidup hanya hari ini, maka ia orang terakhir yang ingin ku lihat. Ia tersenyum dan akupun membalasnya dengan senyuman. Segera aku mengunci kembali pintu dan mengikutinya ke arah tempat tidur. Ini adalah kesekian kali tetapi perasaan ini selalu sama bahkan lebih berdegub kencang jantung ini dari sebelum-sebelumnya. Perasaan kesal yang memuncak tadinya seakan dibius dan tak sadarkan diri  setelah senyum itu tersungging dengan pesonanya yang, ah, tak bisa ku ungkapkan dengan kata bahkan hampir maknanya membingunkanku seumur hidup. Satu yang pasti, aku jatuh cinta lagi dengan makhluk ini, perempuan yanmg membuatku mengubah seluruh gaya hidupku. Dan aku melewatkan malam ini tanpa sedetikpun menutup mata, sedang pujaan hatku, kekasih jiwa yang bukan kekasihku ini menutup matanya diiringi senyuman yang ku taksir sebagai bahagia orang-orang yang hidup dengan kebahagiaan level satu. Ah, sekalipun malam ini kami cuma bertatap mata saja, namun memelukny adalah kehidupanku, seakan angin tak pernah berhembus jika aku tak memeluknya sehari saja. Bisakah ini bertahan lama, aku bertanya dalam hati, namun senyuman itu mengisyaratkan ku afat aku menikmati saat-saat ini, penuhi dengan kebahagiaan dan jangan berpikir soal masa depan sebab tipe orang seperti kami adalah mereka yang merengkuh kebahagiaan pada hari ini, dan esok, akan ada ceritanya sendiri, entah apa itu, biar sajalah, entah apa yang terjadi, terserahlah, yang kami tahu hari ini adalah hari untuk kebahagiaan kami, esok, entahlah dan terserah. Mimpi indah sayang, di alam mimpi jangan lupa untuk tersenyum dan jangan pernah menangis. Aku menyayangimu dan akan tetap begitu. Terserah nasib hidup dan nasib mau mengoceh seperti apa, aku tak peduli. Aku, milikmu malam ini, akan memelukmu sampai pagi dan kesempatan kita berakhir. Aku mencintaimu. Mimpi indah sayangku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *