Coretan – Garis pantai Senja Agustus

 

Ketika hati digeluti rasa bersalah dan terbeban dengan keinginan untuk tidak sekedar menyenangkan seseorang tetapi juga sebagai penebusan atas rasa bersalah terhadap ia yang tersakiti maka saat itu akupun tiba pada keputusan untuk seutuhnya menyerah pada nasib, pada alur yang diciptakan alam, yang mendorong manusia sebagai sebuah perjalanan satu arah dan tak pernah kembali. Inilah yang kupikirkan ketika cinta lama yang sudah kutinggalkan atau mungkin telah meninggalkanku sekali, tersenyum, memanggil hatiku dengan manja, ciri khasnya ketika hatiku masih terbuai sejuknya bualan cinta.
Aku sadar dann telah benar-benar berpengalaman pada jalan hitam ini, setidaknya menurut pengalaman yang mengajariku, tetapi perasaan ini susah untuk dikendalikan ketika senyum itu menyentuh sudut-sudut kalbu yang sudah mati. Kenyataannya, ia membangkitkan kembali gairah terdahulu, dan menggebu, kembali meledak-ledak tak terkendali, tanpa mampu tuk ku bendung.
Seperti gelombang tadi, berbahaya namun tetap memberi kepuasan tersendiri kepada para penikmat indahnya alam, demikian pula cinta yang selalu memberikan manis pada pahitnya kenangan yang pernah dilakoninya dalam kenyataan.
Ahm sunggu merepotkan perkara perasaan ini, jika saja aku manusia tanpa hati, tanpa mata dan tanpa rasa, mungkin saja jebakan ini tidak akan mempan menelanku seutuhnya seperti ini. Tetapi apa dayaku, saat ini aku menyerah tanpa perlawan, seperti manusia tak berdaya dibawah lingkaran dan putaran waktu. Setelah sakit hati dan luka jiwa yang pernah ia ciptakan, ia kembali menggantungkan perasaan bersalah, menginginkan serta gairah cinta yang melampaui batasan logika.
Sakit yang tetap aku nikmati dan menginginkannya lebih lagi.

– Jj, garis pantai senja Agustus.

r4ndiel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *