Ditebing Karang

Aku melihatnya ditebing karang,
memandang pada mentari yang mulai terbenam dan alap yang berputar diatas dermaga.
Coba untuk lupakan pahitnya jalan yang dipaksakan takdir pada hatinya,
berharap hari esoknya tidak tenggelam bersama senja hari ini.
Ia memandang jauh sampai ke seberang sana,
Perlahan sekalipun terseok, tertatih menggapai pada bayangan,
tentang masa datang yang terasa makin tenggelam, hampir hilang..
Hatinya gersang, jiwanya seperti tinggal arang, cintanya baru saja karam.

Kini ia seperti sebatang kayu lapuk ditepi pengharapan yang ragu.

Ia bergumam, menghitung terpaan ombak, nafasnya lebih lemah dari sepoi angin senja,
Rambutnya terurai, matanya memejam, sebab dunianya terasa lebih terang ketika tak memandang..

Ah.. ingin rasanya aku melukis pemandangan ini, melukis dirinya dan menulis kisahnya, melukis keindahan itu,
keindahan tentang harapan yang hampir sirna,
tentang luka yang sudah berulang kali disayat,
tentang hati yang gersang dan tak lagi ramah,
jiwa yang sudah lelah dilukai, cinta yang dinodai dan janji yang selalu digerus keinginan.
tentang angan yang dikhianati masa depan, dan kenangan yang terbunuh masa lalu.

Aku ingin melukisnya, melukis semua keindahan itu, keindahan dalam setiap helai rambutnya,
tergerai oleh angin senja, ketika mentari berniat meninggalkannya juga.
Aku ingin menulisnya, tentang luka dihatinya, tentang warnanya yang ungu dan tatapnya yang sendu – dia telah dilukai, diperkosa kehidupan, digadaikan oleh keinginan… cintanya sudah lelah dipelacuri janji.

Hingga senja itu pergi, ia masih disana, ditepian karang.

Ia menutup matanya sekali lagi, dan senyum itu merekah, seiring air mata yang mengalir disudut senyumnya, merona.. tetesan itu jatuh pada sesal tentang masa yang sudah tidak lagi dimilikinya..

Aku tetap memandangnya, menikmati keindahan yang tidak ku mengerti, keindahan tentang hati dan harapan yang sudah lelah berlari.

Sekali pernah, ingin ku hapus air mata itu, tetapi biarlah, entah mungkin terlalu indah untuk kuhapus, atau memang akulah yang pecundang tak bernyali menyentuh wajahnya.

“Menangislah Violeta, dirimu adalah dealova, sebuah cinta, terlalu indah untuk ku miliki, terlalu indah pula untuk tidak ku miliki”

Pada akhirnya, aku tetap disini bersama keraguan, sedang ia disana menunggu sebuah kepastian bersama harapan yang telah tenggelam.

r4ndiel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *