Jangan datang terlalu cepat

Untuk mentari dan cahayanya.

Ah, pagi datangnya terlalu cepat. Sabar sedikit, Tunda terbitmu mentari, setidaknya beberapa menit lagi, Belum puas ku cumbui gelap, Toh siang selalu terang, malam pun ada terangnya, setidaknya biarkan gelap ini lambat-lambat berlalu,Bukankah kau tidak ingin orang menjalani terangmu dengan tidak puas hati? Lagipula cerita satu ini belum selesai kutulis,
orang menulis dalam terang, orang membaca diterang, tetapi kadang mendapat pencerahan dalam gelap, kalau boleh ku bilang sebagai sepi.
Ah, tunda datangmu sayang, jangan buat aku merayu setujumu, toh aku tak pandai bergombal, apalagi denganmu, sedikit senyum saja bikin waktu jadi lambat. oh maaf, waktu itu temanmu, ya, kau sampaikan padanya, kalau bisa berlambat-lambatlah sedikit, setidaknya biar yang bermimpi mendapat penyelesaian, atau yang sakit hati bisa lebih lama tertidur, yang benci kenyataan biar menunda koarnya, toh, orang yang bersandiwara selalu dibawah cahaya, sedang digelap mereka ada sebagaimana mereka ada, cacat, bobrok, lusuh, ataupun bersinar.
tak ingin ku katakan tentang kau penyebab kami terpaksa menggunakan topeng, sebab diterang orang berlomba menjadi sempurna, mencemooh mereka yang cacat dibalik bayang, tak ingin ku bilang tentang dosa dibawahmu lebih banyak dibanding dalam gelap, – yang diterangi melakukan tanpa malu, yang digelap sembunyi entah malu entah menghukum diri, entah pula sakit hati denganmu,-
tapi kalau boleh, tundalah sedikit datangmu, tak kemana-mana juga kami, tetap disini sampai kau datang bawa kelanjutan, untuk menghitung-tandai hari-hari kami yang kumal, yang dihiaskan kenangan-kenangan kosong, juga kenyataan-kenyataan sia-sia, mungkin sedikit harapan yang sudah longgar, toh pada akhirnya semua direnggut juga, jadi untuk apa kau datang buru-buru.
Kalau memang tidak bisa, singgahlah saja dahulu sedikit lebih lama di dunia kutub, siapa tahu banyak yang akan tersenyum, atau pergilah ke dunia ketiga, belikan es krim untuk anak-anak disana, setidaknya biar lidah mereka sedikit dikasihani, sebelum mereka diambil ke alam seberang, atau pergilah singgah di kota-kota seni, dengarkan barang satu dua syair tentangmu, siapa tahu hati mereka sedikit dihangatkan, sebelum diambil kembali Pemiliknya,
Kalaupun tidak bisa ditunda, ya sudahlah, memang tak pernah bisa seekor penyu mati meminta air asin untuk diminum, apalagi kadal buntung ini, disebut buntung saja sudah cukup bagus baginya, apalagi dikenali sebagaimana dia adanya, kadal buntung,
Dasar kau mentari sombong, congkak nian sinar matamu itu, beruntunglah kau tak punya hati dan akal, setidaknya kau tidak pernah belajar menggerutu karena tidak puas.

r4ndiel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *