Tentang Cinta

Mengapa cinta datang dan pergi secepat lambaian angin menelusur dedaunan dan kemudian meninggalkannya tanpa mengukir tanda kisah?
Sentuhan jemari angin pada wajah meronanya, menghempasnya ke dunia yang suatu saat menggugurkan cinta.

Aku selalu bertanya pada tentang cinta yang penuh makna, seperti apakah bentuknya, apakah ia memiliki wajah, seperti apa rupa wajahnya?
Apakah ia seperti yang dikatakan mereka, tentang senyumnya, tentang amarahnya, tentang dendamnya  bahkan misterinya yang tidak bisa ditebak para pujangga? Entah kapan aku akan benar-benar melihatnya.

Mungkin saja, saat ini ia sedang berpaling ke arah yang lain.
Mungkin karena aku pernah berpaling darinya dua kali.

Ya, tentang cinta, tentang mereka itu, tentang keduanya yang pernah kusinggahi. Tentang cinta mereka yang pernah menginginkan cinta dan diriku ini, kemudian aku menepisnya dari harap mereka.
“Ya, Mungkin saja akulah yang pecundang, mungkin saja”, dadaku teriris.

……

Benarkah cinta tidak memandang pada keadilan? Bukankah cinta yang pernah mereka bawakan padaku adalah pengkhianatan masa silam yang melarikan diri untuk menemukan tempat berteduh sementara? Bukankah mereka pelarian dari hati yang pernah dinodai pilihan? Bukannya cinta yang mereka berikan padaku adalah tipuan senyuman yang ditaburi garam pada luka ku juga? Entahlah, siapa yang tahu, pilihan telah menjadi keputusan, keputusan membawaku pada penyesalan dan sekarang pada kenangan yang kurindui, tentang cinta, tentang mereka.

Entahkah adil pula kenangan yang menemani masa lalu mereka ternyata lebih besar dari cinta yang mereka tawarkan padaku.

Mungkin benar aku bahkan tak pantas mendapatkan cinta yang dipantaskan untukku, apalagi satu yang aku ingini, yang bisa memberi perhatian pada hasrat berhenti, berlabuh dan memandang mentari senja bersamanya.

Benarkah aku tak pantas mendapat cinta yang menurutku adil? ataukah memang aku bahkan tak pantas menyebut kata adil untuk memaknai cinta?

Ribuan pertanyaan menelusuk jiwa seperti bintang malam, mengacaukan pertahananku, kemudian meninggalkan aku dalam remang malam, seperti angin yang berhembus diantara dedaunan. – r4ndieL 2015

r4ndiel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *